Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2021

Kementerian ESDM Mengatakan Ada Sekitar 2.741 Titik Pertambangan Ilegal di Tanah Air

Jakarta -  Maraknya Pertambangan Tanpa Izin (PETI) atau tambang ilegal masih belum bisa diberantas oleh Kementerian ESDM. Direktur Teknik dan Lingkungan Minerba Kementerian ESDM, Lana Saria, mengungkapkan saat ini ada 2.741 titik pertambangan ilegal. "Kami mendata ada 2.741 titik lokasi PETI , di mana terdiri dari 96 lokasi PETI di komoditas batubara dan 2.645 titik komoditas mineral di berbagai wilayah baik di dalam maupun di luar izin usaha pertambangan," kata Lana saat webinar yang digelar Ditjen Minerba, Senin (27/9). Adanya pertambangan ilegal memang harus diberantas. Lana menegaskan pertambangan ilegal tersebut merugikan semua pihak, mulai dari pemegang izin resmi pertambangan hingga menimbulkan permasalahan sosial. "Dampak PETI ini menghambat kegiatan usaha bagi pemegang izin resmi, membahayakan keselamatan atau menimbulkan korban jiwa, berpotensi terjadinya kerusakan lingkungan hidup dan menimbulkan bahaya banjir, longsor, mengurangi kesuburan tanah," ungka

Lubang Ozon Kutub Selatan Semakin Besar, Lebih Besar Dari Antartika

Jakarta -  Lubang ozon yang terbentuk setiap tahun di atas Kutub Selatan kini lebih besar 75 persen dari tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, saat ini ukurannya lebih besar dari Benua Antarktika yang luasnya 14,2 juta kilometer persegi. "Tahun ini, lubang ozon berkembang seperti yang diharapkan pada awal musim," kata Vincent-Henri Peuch, direktur Copernicus, dikutip CNN . "Sekarang perkiraan kami menunjukkan bahwa lubang tahun ini telah berevolusi menjadi lebih besar dari biasanya." Lapisan ozon berada di 20 − 35 kilometres di atas permukaan Bumi. Lapisan ini bertugas sebagai tabir surya yang melindungi earth dari radiasi ultraviolet. Setiap tahun, sebuah lubang terbentuk selama akhir musim dingin di belahan bumi selatan. Menurut para peneliti dari Layanan Pemantauan Atmosfer Copernicus Uni Eropa, lubang ini bisa mencapai ukuran terbesar antara pertengahan September dan pertengahan Oktober. Ini terjadi karena matahari menyebabkan reaksi penipisan ozon yang melibatkan be

Mengetahui Bentuk Detail Dari Astreiod Berbentuk Tulang Anjing

Jakarta -  Dari sekian banyak asteroid yang ada di luar angkasa, asteroid Cleopatra mungkin yang paling aneh karena bentuknya menyerupai tulang anjing. Dan kini para peneliti berhasil mengambil citra terbaik dari asteroid tersebut. Cleopatra berada di sabuk Planet antara Mars dan Jupiter, terdiri dari dua lobus dihubungkan oleh leher panjang-- morfologi yang membuatnya dapat julukan "asteroid tulang anjing". Batu luar angkasa yang tampak aneh ini bahkan punya dua bulan kecil, yakni AlexHelios dan CleoSelene, nama itu diambil berdasarkan anak Firaun Mesir kuno yang terkenal, Cleopatra. "Kami telah mengetahui tentang keanehan luar angkasa yang luar biasa selama sekitar dua dekade, tetapi para ilmuwan kini berhasil memperoleh gambar paling yang pernah kami lihat. Ini membantu kami mengetahui bagaimana Cleopatra terbentuk, dan hasilnya menunjukkan bahwa bulan-bulan lahir dari materi Cleopatra sendiri," kata Franck Marchis, astronom dari SETI Institute dan Laboratoire

Beberapa Faktor Penyebab Komodo Masuk Daftar Merah Hewan yang Terancam Punah

Jakarta -  Komodo, hewan asli Indonesia sekaligus kadal terbesar di dunia, akhirnya masuk ke dalam daftar merah hewan terancam punah dari International Union for Preservation of Nature (IUCN). Organisasi konservasi keanekaragaman hayati internasional tersebut menyoroti krisis iklim dan ulah manusia sebagai pemicunya. Condition hewan terancam punah tersebut diberikan IUCN dalam update daftar merah (red list) tahunan pada Sabtu (4/9) di Marseille, Prancis. Daftar Merah sendiri merupakan indikator kesehatan keanekaragaman hayati yang meliputi tren habitat, populasi, dan ancaman yang dihadapi sebuah spesies. Dalam daftar merah terbaru, IUCN memindahkan status komodo (Varanus komodoensis) dari "rentan" menjadi "terancam punah." "Naiknya suhu worldwide dan naiknya permukaan air laut diperkirakan akan mengurangi environment yang cocok bagi komodo setidaknya 30% dalam 45 tahun ke depan," kata IUCN dalam keterangan resminya. "Selain itu, sementara subpopulas